Pentingnya Merumuskan Tujuan dalam Sistem Instruksional

Dalam bukunya, Sanjaya (2013) mengungkapkan bahwa tujuan merupakan komponen terpenting dalam pembelajaran. Adapun alasan pentingnya merumuskan tujuan dalam sistem instruksional diantaranya:
a)
Pertama, rumusan tujuan yang jelas dapat digunakan untuk
mengevaluasi efektivitas keberhasilan proses pembelajaran. Suatu proses
pembelajaran dikatakan berhasil manakala siswa dapat mencapai tujuan secara
optimal. Keberhasilan pencapaian tujuan merupakan indikator keberhasilan
pendidik merancang dan memproses pembelajaran;
b)
Kedua, tujuan pembelajaran dapat digunakan sebagai pedoman dan
panduan dalam kegiatan belajar siswa. Tujuan yang jelas dan tepat dapat
membimbing siswa dalam melaksanakan aktivitas belajar. Sehubungan dengan itu,
pendidik juga dapat merencanakan dan mempersiapkan tindakan apa saja yang
dilakukan untuk membantu siswa belajar;
c)
Ketiga, tujuan
pembelajaran dapat membantu dalam mendesain sistem pembelajaran. Artinya dengan
tujuan yang jelas dapat membantu pendidik dalam menentukan materi pelajaran,
metode atau strategi pembelajaran, alat, media dan sumber belajar, serta dalam
menentukan dan merancang alat evaluasi untuk melihat keberhasilan belajar
siswa; dan
d)
Keempat, tujuan pembelajaran dapat digunakan sebagai kontrol dalam
menentukan batas-batas dan kualitas pembelajaran. Artinya, melalui penetapan
tujuan, pendidik dapat mengontrol sampai mana siswa telah menguasai
kemampuan-kemampuan sesuai dengan tujuan dan tuntutan kurikulum yang berlaku.
Lebih jauh dengan tujuan dapat dapat ditentukan daya serap siswa dan kualitas
suatu sekolah.
Jadi dapat dikatakan bahwa tujuan pembelajaran merupakan komponen yang
sangat penting di dalam sistem pembelajaran karena tujuan pembelajaran
merupakan pengikat segala aktivitas guru dan siswa yang dicapai dalam satu kali
pertemuan, sehingga guru harus memiliki pemahaman dan keterampilan dalam
merumuskan tujuan pembelajaran agar tujuan tersebut dapat tercapai.
Tujuan-tujuan instruksional didalam model-model komponen ini harus
dirumuskan secara spesifik dalam bentuk perilaku akhir siswa. Hampir setiap
pendidik mengakui pentingnya penentuan tujuan, tetapi akhir-akhir inipun hanya
sedikit yang menganjurkan perlunya dirumuskan tujuan itu secara jelas, yaitu
tujuan : bagaimana seharusnya siswa berperilaku pada akhir pengajaran. Model
instrusional ini menuntut agar tujuan-tujuan tersebut dirumuskan secara jelas
dan tegas dalam bentuk perilaku siswa.
Komponen tujuan memiliki fungsi yang sangat penting dalam system
pembelajaran. Kalau kita ibaratkan, tujuan adalah komponen jantungnya dalam
system tubuh manusia. Karena terjadinya proses pembelajaran manakala terdapat
tujuan yang harus dicapai. Dengan demikian, sebagai kegiatan yang bertujuan,
maka segala sesuatu yang dilakukan guru dan siswa dalam proses pembelajaran
hendaknya diarahkan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Tujuan
merupakan pengikat segala aktivitas guru dan siswa. Oleh sebab itu, merumuskan
tujuan mrupakan langkah pertama yang harus dilakukan dalam merancang sebuah
perencanaan program pembelajaran.
Ada beberapa alasan, mengapa tujuan perlu dirumuskan
dalam merancang suatu program pembelajaran. Pertama, rumusan tujuan yang jelas
dapat digunakan untuk mengevaluasi efektivitas keberhasilan proses
pembelajaran. Suatu proses pembelajaran dikatakan berhasil manakala siswa dapat
mencapai tujuan secara optimal. Keberhasilan pencapaian tujuan merupakan
indicator keberhasilan guru merancang dan melaksanakan proses pembelajaran.
Kedua, tujuan pembelajaran dapat digunakan sebagai pedoman dan panduan kegiatan
belajar siswa. Tujuan yang jelas dan tepat dapat membimbing siswa dalam
melaksanakan aktivitas belajar. Sekaitan dengan itu, guru juga dapat
merencanakan dan mempersiapkan tindakan apa saja yang harus dilakukan untuk
membantu siswa belajar. Ketiga, tujuan pembelajaran dapat membantu dalam
mendesain system pembelajaran. Artinya dengan tujuan yang jelas dapat membantu
guru dalam menentukan materi pelajaran, metode atau strategi pembelajaran,
alat, media dan sumber belajar, serta dalam menentukan dan merancang alat
evaluasi untuk melihat keberhasilan belajar siswa. Keempat, tujuan pembelajaran
dapat digunakan sebagai control dalam menentukan batas-batas dan kualitas
pembelajaran. Artinya, melalui penetapan tujuan, guru dapat mengontrol sampai
mana siswa telah menguasai kemampuan-kemampuan sesuai dengan tujuan dan
tuntutan kurikulum yang berlaku. Lebih jauh dengan tujuan dapat ditentukan daya
serap siswa dan kualitas suatu sekolah.
Tujuan pembelajaran awalnya lebih mengutamakan pada
pentingnya penguasaan bahan bagi siswa dan pada umumnya yang dikembangkan
melalui pendekatan pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher-centered).
Namun seiring dengan pergeseran teori dan cara pandang dalam pembelajaran,
tujuan pembelajaran yang semula lebih memusatkan pada penguasaan bahan,
selanjutnya bergeser menjadi penguasaan kemampuan siswa atau biasa dikenal
dengan sebutan penguasaan kompetensi atau performansi.
Rumusan tujuan merupakan pernyataan tentang hasil belajar
yang diharapkan dicapai oleh setiap siswa. Lebih tepatnya, kemampuan baru apa
yang seharusnya dikuasai siswa pada akhir pelajaran. Rumusan tujuan bukan
merupakan pernyataan tentang apa yang direncanakan guru untuk dilaksanakan
dalam pembelajaran tetapi tentang apa yang seharusnya siswa peroleh dari suatu
pelajaran.
Pertama, guru harus mengetahui tujuan pembelajarannya agar
dapat melakukan pemilihan materi, metode, dan media. Tujuan itu akan
mengarahkan guru dalam memilih materi, metode, dan media dan urutan kegiatan
pembelajaran.
Mengetahui tujuan pembelajarannya
sendiri juga menjadikan guru memiliki komitmen untuk menciptakan lingkungan
belajar sedemikian rupa sehingga tujuan itu dapat dicapai. Sebagai misal,
jika tujuan dari satu RPP Fisika adalah “Dapat mengukur
arus yang mengalir di dalam sebuah rangkaian sederhana dengan amperemeter,” maka lingkungan belajar itu meliputi sebuah
amperemeter dan rangkaian sederhana.
Alasan penting lain untuk menyatakan
rumusan tujuan adalah membantu menjamin evaluasi yang benar. Guru tidak akan
tahu apakah siswanya telah mencapai sebuah tujuan kecuali guru itu mutlak yakin
apa tujuan yang hendak dicapai.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar