faktor yang mendorong perlunya perubahan paradigma tentang mengajar

0
COM
Berdasarkan pendapat Sanjaya tersebut diatas dapat disimpulkan bahwasanya paradigma perubahan tentang mengajar disebabkan oleh tiga faktor yaitu: a) siswa membutuhkan orang dewasa untuk mengarahkan dan membimbing mereka, sehingga guru tidak lagi memposisikan diri sebagai sumber belajar yang bertugas menyampaikan informasi, akan tetapi harus berperan sebagai pengelola sumber belajar untuk dimanfaatkan siswa itu sendiri; b) belajar, bukan hanya sekedar mengahafal informasi, menghafal rumus-rumus, tetapi bagaimana menggunakan informasi dan pengetahuan itu untuk mengasah kemampuan berpikir; dan c) siswa tidak lagi dianggap sebagai objek, akan tetapi sebagai subjek belajar yang harus mencari dan mengkonstruksi pengetahuannya sendiri.

merumuskan indikator hasil belajar sebagai tujuan pembelajaran

0
COM


Indikator hasil belajar adalah tujuan pembelajaran yang diharapkan dapat dimiliki oleh siswa setelah mereka melakukan proses pembelajaran tertentu. Dengan demikian, indicator hasil belajar merupakan kemampuan siswa yang dapat diobservasi (observable). Artinya, apa hasil yang diperoleh setelah mereka mengikuti proses pembelajaran.
Ada empat komponen pokok yang harus tampak dalam rumusan indikator hasil belajar seperti yang digambarkan dalam pertanyaan berikut:
a. Siapa yang belajar atau yang diharapkan dapat mencapai tujuan atau mencapai hasil belajar itu?
b. Tingkah laku atau hasil belajar yang bagaimana yang diharapkan dapat dicapai itu?
c. Dalam kondisi yang bagaimana hasil belajar itu dapat ditampilkan?
d. Seberapa jauh hasil belajar itu bisa diperoleh?

Revisi Tujuan Pendidikan Bloom oleh Anderson

0
COM

Sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang psikologi serta perkembangannya tuntutan komunitas pendidikan, Anderson dalam buku A Taxonomy for Learning, Teaching and Assessing: A revision of Bloom’s Taxonomi of Educational Objectivites (2001), revisi taksonomi dilakukan dengan memasukkan unsur metacognitive sebagai bagian tertinggi dari domain kognitif, yang kemudian dinamakan meng-create (mencipta) menggantikan posisi evaluasi dan menarik sintesis. Hasil revisi taksonomi semua tingkatan dalam domain kognitif yang asalnya kata benda diubah menjadi kata kerja, misalnya tingkatan pertama yang disebut dengan  pengetahuan (knowledge) diubah menjadi mengingat (remembering). Demikian juga dengan pemahaman (comprehension) diubah menjadi memahami (understand). Tingkatan dalam domain kognitif hasil revisi tersebut digambarkan dalam gambar berikut :

Pendapat Bloom Tentang Tujuan Pendidikan

0
COM

Bloom mengungkapkan, bentuk prilaku sebagai tujuan pendidikan yang harus dirumuskan dapat diklasifikasika dalam 3 domain yakni kognitif, afektif, dan psikomotorik.
a. Domain kognitif adalah tujuan pendidikan yang berhubungan dengan kemampuan intelektual atau kemampuan berpikir seperti kemampuan mengingat dan kemampuan memecahkan masalah yang terdiri dari 6 tingkatan yakni pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi;
b. Domain afektif berkenaan dengan sikap, nilai-nilai dan apresiasi yang memiliki tingkatan penerimaan, respon, dan menghargai;
c. Domain psikomotorik meliputi semua tingkah laku yang menggunakan syaraf dan otot badan yang biasanya berhubungan dengan bidang studi yang lebih banyak menekankan pada gerakan-gerakan atau keterampilan.

pembelajaran sebagai sistem

0
COM
Merencanakan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan sistem memiliki beberapa manfaat, di antaranya:
1.     Melalui pendekatan sistem, arah dan tujuan pembelajaran dapat direncanakan dengan jelas. Dapat kita bayangkan apa yang akan terjadi, manakala dalam suatu proses pembelajaran tanpa adanya tujuan yang jelas. Tentu, proses pembelajaran tidak akan menjadi fokus, dalam arti pembelajaran akan menjadi tidak bermakna serta sulit menentukan efektifitas proses pembelajaran.
2.     Pendekatan sistem menuntun guru pada kegiatan yang sistematis. 
3.     Pendekatan sistem dapat merancang pembelajaran dengan mengoptimalkan segala potensi dan sumber daya yang tersedia.

Pentingnya Merumuskan Tujuan dalam Sistem Instruksional

0
COM



Dalam bukunya, Sanjaya (2013) mengungkapkan bahwa tujuan merupakan komponen terpenting dalam pembelajaran. Adapun alasan pentingnya merumuskan tujuan dalam sistem instruksional diantaranya:
a)      Pertama, rumusan tujuan yang jelas dapat digunakan untuk mengevaluasi efektivitas keberhasilan proses pembelajaran. Suatu proses pembelajaran dikatakan berhasil manakala siswa dapat mencapai tujuan secara optimal. Keberhasilan pencapaian tujuan merupakan indikator keberhasilan pendidik merancang dan memproses pembelajaran;
b)      Kedua, tujuan pembelajaran dapat digunakan sebagai pedoman dan panduan dalam kegiatan belajar siswa. Tujuan yang jelas dan tepat dapat membimbing siswa dalam melaksanakan aktivitas belajar. Sehubungan dengan itu, pendidik juga dapat merencanakan dan mempersiapkan tindakan apa saja yang dilakukan untuk membantu siswa belajar;